Banyak orang di
zaman kita beranggapan bahwa agama hanya merupakan program-program yang
kosong dan nilai-nilai akhlak semata. Ini adalah keyakinan klasik dan
salah. Pada hakikatnya, agama adalah sistem dalam kehidupan dan
pergaulan. Intinya ialah hubungan dengan Allah SWT. Oleh karena itu,
usaha memisahkan antara problem-problem tauhid dan perilaku manusia
dalam kehidupan mereka sehari-hari berarti memisahkan agama dari
kehidupan dan mengubahnya menjadi adat-istiadat, tradis-tradisi, dan
acara-acara ritual yang hampa. Kisah Nabi Syu'aib menampakkan hal yang
demikian secara jelas.
Allah SWT mengutus Syu'aib pada penduduk Madyan:
"Dan kepada (penduduk) Madyan (kami utus) saudara mereka,
Syu 'aib. Ia berkata: 'Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada
Tuhan bagimu selain Dia.'" (QS. Hud: 84)
Ini adalah dakwah yang sama yang diserukan oleh setiap
nabi. Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara satu nabi dan nabi yang
lain. Ia merupakan dasar akidah dan tanpa dasar ini mustahil suatu
bangunan akan berdiri. Setelah peletakan bangunan tersebut, Syu'aib
mulai menyuarakan dakwahnya:
"Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan.
Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan
sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan
(kiamat)." (QS. Hud: 84)
Setelah menjelaskan masalah tauhid secara langsung, Nabi
Syu'aib berpindah pada masalah muamalah sehari-hari yang berkenaan
dengan kejujuran dan keadilan. Adalah hal yang terkenal pada penduduk
Madyan bahwa mereka mengurangi timbangan dan mereka tidak memberikan
hak-hak manusia. Ini adalah suatu kehinaan yang menyentuh kesucian hati
dan tangan sebagaimana menyentuh kesempurnaan harga diri dan kemuliaan.
Para penduduk Madyan beranggapan bahwa mengurangi
timbangan adalah salah satu bentuk kelihaian dan kepandaian dalam
jual-beli serta bentuk kelicikan dalam mengambil dan membeli. Kemudian
nabi mereka datang dan mengingatkan bahwa hal tersebut merupakan hal
yang hina dan termasuk pencurian. Nabi Syu'aib memberitahukan kepada
mereka bahwa beliau khawatir jika mereka meneruskan perbuatan keji itu
niscaya akan turun kepada mereka azab di mana manusia tidak akan dapat
menghindar dari siksaan itu. Perhatikanlah bagaimana campur tangan Islam
melalui Nabi Syu'aib yang diutus kepada manusia di mana ia
memperhatikan persoalan jual-beli dan mengawasinya:
"Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan
adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan
janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan."
(QS. Hud: 85)
Nabi Syu'aib meneruskan misi dakwahnya. Beliau
mengulang-ulangi nasihatnya kepada mereka dengan cara yang baik dan
mengajak ke jalan yang baik, tidak ke jalan yang buruk; beliau
menghimbau kepada mereka untuk menegakkan timbangan dengan keadilan dan
kebenaran dan mengingatkan mereka agar jangan merampas hak-hak orang
lain. Merampas hak-hak orang lain itu tidak terbatas pada jual-beli
saja, namun juga berhubungan dengan perbuatan-perbuatan lainnya; beliau
memerintahkan mereka untuk menegakkan timbangan keadilan dan kejujuran.
Demikianlah seruan dari agama tauhid dan akidah tauhid di mana ia selalu
menyuarakan kejujuran dan keadilan.
Agama selalu memerintahkan manusia untuk menjalin
kerjasama sesama mereka dalam kehidupan sehari-hari dengan cara-cara
yang bijaksana dan baik, baik menyangkut hubungan kerja, hubungan
pribadi maupun hubungan lainnya. Al-Qur'an al-Karim mengatakan: "Dan
janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka. "Dan kata
as-Syai' (sesuatu) dalam ayat tersebut diucapkan kepada hal-hal yang
bersifat materi dan yang bersifat non-materi (rohani) di mana masuk
dalam katagori itu perbuatan-perbuatan dan hubungan-hubungan yang
menghasilkan. Al-Qur'an melarang segala bentuk kelaliman, baik kelaliman
berkenaan dengan menimbang buah-buahan atau sayur-sayuran maupun
kelaliman dalam bentuk tidak memberikan penghargaan terhadap usaha
manusia dan pekerjaan mereka. Sebab, kelaliman terhadap manusia akan
menciptakan suasana ketidakharmonisan yang berakibat pada timbulnya
penderitaan, sikap putus asa, dan sikap tidak peduli, sehingga pada
akhirnya hubungan sesama manusia berjalan tidak harmonis dan menimbulkan
kegoncangan dalam kehidupan. Oleh katrena itu, Al-Qur'an mengingatkan
agar jangan sampai ada manusia yang berbuat kerusakan di muka bumi:
"Dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan
membuat kerusakan. Sisa (keuntungan) dart Allah adalah lebih baik
bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah
seorangpenjaga atas dirimu." (QS. Hud: 85-86)
Yang dimaksud al-'Atsu ialah sengaja membuat kerusakan
dan bertujuan untuk membuat kerusakan. Janganlah kalian membuat
kerusakan di muka bumi; janganlah kalian sengaja untuk menciptakan
keonaran di muka bumi. Apa yang ada di sisi Allah SWT adalah hal yang
terbaik buat kalian jika kalian benar-benar beriman. Kemudian Nabi
Syu'aib memberitahu kepada mereka bahwa ia tidak memiki sesuatu kepada
mereka; ia tidak dapat menguasai mereka tidak juga ia selalu mengawasi
mereka. Beliau hanya sekadar seorang rasul atau utusan untuk
menyampaikan ajaran Tuhannya:
"Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu. " (QS.
Hud: 86)
Dengan cara yang demikian, Nabi Syu'aib menjelaskan
kaumnya bahwa masalah yang mereka hadapi saat ini sangat penting dan
sangat serius, bahkan sangat berat. Beliau memberitahu mereka akibat
yang bakal mereka terima jika mereka membuat kerusakan. Selesailah
bagian pertama dari dialog Nabi Syu'aib bersama kaumnya. Nabi Syu'aib
telah mengawali pembicaraan dan kaumnya mendengarkan. Kemudian beliau
berhenti dari pembicaraannya dan sekarang kaum membuka pembicaraan:
"Mereka berkata: 'Hai Syu'aib, apakah agamamu yang
menyuruh agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami
atau melarang hand berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami.
Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal " (QS.
Hud: 87)
Para penduduk Madyan yang kafir mereka biasa merampok dan
menyembah al-Aikah, yaitu pohon dari al-Aik yang dikelilingi oleh
dahan-dahan yang berputar di sekelilingnya. Mereka termasuk orang-orang
yang menjalin hubungan sesama manusia dengan cara-cara yang sangat keji.
Mereka suka mengurangi timbangan; mereka mengambil yang lebih darinya
dan tidak menghiraukan kekurangannya. Perhatikanlah semua itu dalam
dialog mereka bersama Syu'aib. Mereka berkata, "wahai Syu'aib apakah
agamamu yang memerintahkanmu...?" Seakan-akan agama ini mendorong
Syu'aib dan membisikinya serta memerintahnya sehingga ia menaati tanpa
pertimbangan dan pemikiran. Sungguh Syu'aib telah berubah dengan
agamanya itu menjadi alat yang bergerak dan alat yang tidak sadar.
Demikianlah celaaan dan tuduhan keji yang dialamatkan oleh kaum Nabi
Syu'aib kepadanya. Agama Syu'aib telah membuatnya gila dan membuatnya
nekat untuk memerintahkan mereka meninggalkan apa yang selama ini mereka
sembah dan disembah oleh kakek-kakek mereka. Kakek-kakek mereka telah
menyembah tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan sementara agama Syu'aib
memerintahkan mereka untuk hanya menyembah Allah SWT. Kenekatan model
apa dari Syu'aib ini?
Dengan ejekan dan penghinaan ini, Nabi Syu'aib menghadapi
dialog yang terjadi dengan mereka. Kemudian mereka kembali
bertanya-tanya dengan penuh keheranan dan dengan nada mengejek: "Apakah
agamamu yang menyuruh agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh
bapak-bapak kami." Tidakkah engkau sadar wahai Syu'aib bahwa agamamu
ingin mencampuri keinginan kita dan cara kita menggunakan harta kita?
Apakah hubungan keimanan dan salat dengan muamalah materi?
Dengan pertanyaan ini, kaum Nabi Syu'aib mengira bahwa
mereka mencapai suatu tingkat kecerdasan. Mereka mengemukakan di
hadapannya problem keimanan, dan mereka mengingkari adanya keterkaitan
antara perilaku manusia dan muamalah mereka serta perekonomian mereka.
Ini adalah masalah yang klasik; ini adalah usaha untuk memisahkan antara
ekonomi dan Islam di mana setiap nabi justru di utus untuknya meskipun
nama-nama mereka berbeda-beda; ini adalah masalah kuno yang diungkap
oleh kaum Nabi Syu'aib di mana mereka mengingkari bahwa agama turut
campur dalam kehidupan sehari-hari mereka, perekonomian mereka dan cara
mereka menggunakan harta mereka. Mereka menganggap bahwa menginfakkan
harta atau menggunakannya atau menghambur-hamburkannya adalah suatu yang
tidak berhubungan dengan agama. Hal itu menyangkut kebebasan pribadi
manusia. Bukankah itu hartanya yang khusus lalu mengapa agama turut
campur di dalamnya?
Demikianlah pemahaman kaum Nabi Syu'aib kepada Islam yang
dibawa oleh Nabi Syu'aib. Kami kira pemahaman demikian sedikit atau
banyak tidak berbeda dengan pemahaman banyak masyarakat di zaman kita
sekarang mereka menganggap bahwasannya Islam tidak memiliki kaitan
dengan kehidupan pribadi manusia dan kehidupan perekonomian mereka. Oleh
karena itu, manusia dapat menggunakan harta mereka sesuai dengan
kemauan mereka: "Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun
lagi berakal."
Mereka ingin mengatakan kepada Nabi Syu'aib, seandainya
engkau seorang yang bijaksana dan memiliki pemikiran yang matang niscaya
engkau tidak akan mengatakan apa yang telah engkau katakan. Mereka
kembali mengejek Nabi Syu'aib dan merendahkan dakwahnya.
Seandainya Anda bertanya kepada kaum Nabi Syu'aib tentang pemahaman
agama mereka maka mereka pasti mengingkari bahwa agama adalah sebagai
sistem dalam kehidupan yang menjadikan hidup lebih mulia, lebih suci,
lebih adil dan lebih pantas manusia untuk menjabat sebagai khalifatullah
di muka bumi; seandainya Anda bertanya kepada mereka tentang agama
niscaya mereka memberitahumu bahwa ia hanya berupa kumpulan nilai-nilai
rohani yang baik yang tidak mewarnai kehidupan sehari-hari. Dengan
pemahaman seperti ini, agama hanya sekadar hiasan. Ini adalah pemahaman
yang menggelikan karena Allah SWT mengutus para nabi dan ajaran-ajaran
yang mereka bawa bukan untuk perhiasan dan main-mainan. Maha Suci Allah
SWT dari semua itu. Allah SWT mengutus para nabi-Nya dengan membawa
sistem baru dalam kehidupan, yaitu sistem yang mencakup nilai-nilai dan
pemikiran-pemikiran yang itu semua tidak akan bermakna jika tidak
berubah menjadi suatu sistem dalam kehidupan secara umum dan mengatur
kehidupan secara khusus. Dengan pemahaman seperti inilah agama menjadi
mulai dan agama menjadi benar adanya. Dan dengan asumsi seperti ini,
kita memahami seberapa jauh campur tangan agama dalam
persoalan-persoalan kehidupan sehari-hari: dimulai dari
hubungan-hubungan cinta sampai undang-undang perkawinan, bahkan cara
mengambil keputusan hidup sampai sistem dalam menginfakkan uang dan
menggunakannya, juga sistem dalam cara menggunakan dan mendistribusikan
kekayaan dan sebagainya. Jika manusia memahami agama seperti ini
makajadilah agama sesuatu kebenaran. Dan kalau tidak, agama laksana
puing-puing saja.
Nabi Syu'aib mengetahui bahwa kaumnya mengejeknya karena
mereka menganggap agama tidak turut campur dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, beliau menghadapi semua itu dengan penuh kelembutan dan kasih
sayang karena beliau yakin apa yang beliau bawa adalah kebenaran. Beliau
tidak peduli dengan ejekan mereka dan tidak tersinggung dengannya dan
tidak mempersoalkan hal itu; beliau memberi pengertian kepada mereka
bahwa beliau berada di atas kebenaran dari Tuhannya; beliau adalah
seorang nabi yang mengetahui kebenaran; beliau tidak melarang mereka
untuk meninggalkan sesuatu yang di balik larangan itu mendatangkan
keuntungan pribadi buatnya; beliau tidak ingin menasihati mereka dalam
kejujuran agar pasar menjadi sepi dan karenanya beliau mengambil
manfaat; beliau hanya sekadar seorang nabi di mana dakwah setiap nabi
tergambar dalam ungkapan yang singkat:
"Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan
selama aku masih berkesanggupan. " (QS. Hud: 88)
Yang beliau inginkan hanya al-Islah (usaha membuat
perbaikan). Demikanlah kandungan dan inti dakwah para nabi yang
sebenarnya. Mereka adalah al-Muslihun, yaitu orang-orang yang membuat
perbaikan; mereka memperbaiki akal, memperbaiki hati dan memperbaiki
kehidupan yang umum dan kehidupan yang khusus:
"Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, bagaimana pikiranku jika
aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku
dari-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku
tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku
larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku
masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan
(pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah bertawakal dan hanya
kepada-Nya-lah aku kembali.'" (QS. Hud: 88)
Setelah Nabi Syu'aib menjelaskan tujuan-tujuannya kepada
mereka dan menyingkapkan kebenaran dakwahnya, beliau mulai mengotak-atik
akal-akal rnereka; beliau mengungkapkan kepada mereka bagaimana
pergulatan orang-orang sebelum mereka dengan para nabi sebelumnya, yaitu
kaum Nabi Nuh, kaum Nabi Hud, kaum Nabi Saleh, dan kaum Nabi Luth yang
masa mereka ddak jauh dengan masa Nabi Syu'aib. Beliau mulai berdialog
dengan mereka dan mengingatkan mereka bahwa sikap penentangan mereka
justru akan mendatangkan siksaan bagi mereka. Nabi Syu'aib mengingatkan
mereka bagaimana nasib orang-orang yang mendustakan kebenaran:
"Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku
(dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab
seperti yang menimpah kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Saleh, sedang
kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. Dan mohonlah ampun
dari Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesungguhnya Tuhanku Maha
Penyayang lagi Maha Pengasih. " (QS. Hud: 89-90)
Usai Nabi Syu'aib berdakwah kepada Allah SWT dan
menjelaskan al-ishlah (usaha memperbaiki masyarakat) dan mengingatkan
mereka bahaya penentangan serta menakut-nakuti mereka dengan
menceritakan kembali siksaan yang diterima orang-orang yang berbohong
sebelum mereka. Meskipun demikian, Nabi Syu'aib tetap membukakan pintu
pengampunan dan pintu taubat bagi mereka. Beliau menunjukkan kepada
mereka kasih sayang Tuhannya Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Namun kaum Nabi Syu'aib memilih azab. Kekerasan hati mereka dan
keinginan mereka untuk mendapatkan harta yang haram serta rasa puas
dengan sistem yang mengatur mereka, semua itu menyebabkan mereka menolak
kebenaran:
"Mereka berkata: 'Hai Syu'aib, kami tidak banyak mengerti
tentang apa yang kamu katakan itu.'" (QS. Hud: 91)
Kami tidak memahamimu. Engkau adalah seorang yang
mengacau; engkau mengatakan sesuatu yang tidak dimengerti:
"Dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang
yang lemah di antara kami." (QS. Hud: 91)
Beliau dikatakan sebagai orang yang lemah karena
orang-orang fakir dan orang-orang yang rrienderita adalah orang-orang
yang beriman padanya, sedangkan orang-orang kaya dan para pembesar telah
menentang mereka. Demikianlah pertimbangan umumnya manusia yang tidak
memiliki kekuatan cukup untuk menghadapi kebenaran dakwah Nabi Syu'aib
di mana beliau dianggap sebagai orang yang lemah:
"Kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami akan
merajammu."(QS. Hud: 91)
Seandainya kalau bukan karena keluargamu dan kaummu dan
orang-orang yang mengikutimu niscaya kami akan menggali suatu lubang dan
kami akan bunuh kamu dilubang itu dengan cara melempari kamu dengan
batu:
"Sedang kamu pun bukanlah seorangyang berwibawa di sisi
kami." (QS. Hud: 92)
Kaum Nabi Syu'aib berpindah dari cara mengejek pada cara
menyerang. Nabi Syu'aib telah menyampaikan bukti kepada mereka setelah
mereka mengejeknya, lalu mereka mengubah cara mereka berdialog. Mereka
memberitahunya bahwa mereka tidak memahami apa yang beliau katakan dan
mereka melihat bahwa Nabi Syu'aib sebagai orang yang lemah dan hina. Dan
seandainya kalau bukan karena mereka takut (kasihan) kepada keluarganya
niscaya mereka akan membunuhnya. Mereka menampakkan kebencian kepada
Nabi Syu'aib dan ingin sekali untuk membunuhnya kalau bukan karena
alasan-alasan yang berhubungan dengan keluarganya. Menghadapi ancaman
itu, Nabi Syu'aib tetap menunjukkan sikap lembutnya lalu beliau bertanya
kepada mereka dengan maksud untuk menggugah kesekian kalinya akal
mereka:
"Syu 'aib menjawab: 'Hai kaumku, apakah keluargaku lebih
terhormat menurut pandanganmu daripada Allah. " (QS. Hud: 92)
Apakah cukup rasional jika mereka membayangkan hal
tersebut? Mereka melupakan hakikat kekuatan yang mengatur alam.
Sesungguhnya hanya Allah SWT Yang Maha Mulia dan Maha Kuat. Seharusnya
mereka mengingat hal itu; seharusnya seseorang tidak takut kepada apapun
selain Allah SWT dan tidak membandingkan kekuatan di alam wujud ini
dengan kekuatan Allah SWT. Hanya Allah SWT Yang Kuat dan hanya Dia yang
mengatur hamba-hamba-Nya.
Tampak bahwa kaum Nabi Syu'aib mulai kesal dan semakin
kesal dengannya, lalu berkumpullah para pembesar kaumnya:
"Pemuka-pemuka dari kaum Syu 'aib yang menyombongkan diri
berkata: 'Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu'aib dan dengan
orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali
kepada agama kami.'" (QS. al-A'raf: 88)
Mereka menggunakan tahap baru dengan cara mengancam Nabi
Syu'aib; mereka mengancamnya untuk membunuh dan mengusir dari desa
mereka; mereka memberi pilihan kepada Nabi Syu'aib antara terusir dan
kembali kepada agama mereka yang menyembah pohon-pohon dan benda-benda
mati. Nabi Syu'aib memberitahu kepada mereka bahwa masalah kembalinya ia
ke agama mereka adalah masalah yang tidak berhubungan dengan
masalah-masalah yang disebutkan dalam perjanjian. Sungguh Allah SWT
telah menyelamatkan beliau dari agama mereka lalu bagaimana beliau
kembali lagi padanya? Beliau yang mengajak mereka pada agama tauhid lalu
bagaimana beliau mengajak mereka untuk kembali pada kesyirikan dan
kekufuran? Beliau mengajak mereka dengan cara yang lembut dan kasih
sayang sementara mereka mengancamnya dengan kekuatan.
Demikianlah pertentangan antara Nabi Syu'aib dan kaumnya
semakin berlanjut. Nabi Syu'aib memegang amanat dakwah untuk menghadapi
para pembesar, para pendusta, dan para penguasa kaumnya. Akhirnya, Nabi
Syu'aib mulai mengetahui bahwa mereka tidak lagi memiliki harapan karena
mereka telah berpaling dari Allah SWT:
"Sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di
belakangmu? Sesungguhnya pengetahuan Tuhanku meliputi apa yang kamu
kerjakan. Dan (dia berkata): 'Hai kaumku, berbuatlah menurut
kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan
mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa
yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan). Sesungguhnya aku pun
menunggu bersama kamu." (QS. Hud: 92-93)
Nabi Syu'aib berlepas diri dari mereka. Mereka telah
berpaling dari agama Allah SWT bahkan telah mendustakan nabi-Nya dan
menuduhnya bahwa ia tersihir dan seorang pembohong. Maka, setiap orang
hendaklah melakukan apa saja yang diinginkannya dan hendaklah mereka
menunggu azab Allah SWT. Kemudian pergulatan antara Nabi Syu'aib dan
kaumnya berakhir adanya fase baru. Mereka meminta kepada Nabi Syu'aib
untuk mendatangkan azab dari langit jika beliau termasuk orang-orang
yang benar. Dengan nada mencibir dan menantang, mereka berkata: "di mana
azab itu, di mana siksaan yang dijanjikan itu? Mengapa terlambat
datang?"
Mereka mengejek Nabi Syu'aib dan beliau dengan tenang
menunggu datangnya azab Allah SWT. Allah SWT mewahyukan kepada beliau
agar keluar bersama orang-orang mukmin dari desa tersebut. Akhirnya,
Nabi Syu'aib keluar bersama para pengikutnya dan datanglah azab Allah
SWT:
"Dan takkala datang azab Kami. Kami selamatkan Syu'aib
dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari
kami, dan orang-orang lalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur,
lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka
belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaan bagi penduduk
Madyan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa." (QS. Hud: 94-95)
Ia adalah teriakan sekali saja satu suara yang datang
kepada mereka dari celah-celah awan yang menyelimuti. Mula-mula mereka
barangkali bergembira karena membayangkan itu akan membawa hujan tetapi
mereka dikagetkan ketika datang kepada mereka siksaan yang besar pada
hari yang besar.
Selesailah masalah ini. Mereka menyadari bahwa teriakan
itu membawa bencana buat mereka; teriakan itu menghanguskan setiap
makhluk yang ada di dalam negeri itu. Mereka tidak mampu bergerak dan
tidak mampu menyembunyikan diri dan tidak pula mereka dapat
menyelamatkan diri mereka.
Referensi :
http://www.berryhs.com/2011/02/13-nabi-syuaib-as.html
http://www.berryhs.com/2011/02/13-nabi-syuaib-as.html
Posting Komentar